Menjadi orang tua memang tidak mudah. Harus banyak belajar dan sabar. Belajar adalah bekal dan Sabar adalah mental. Aku sendiri menyadari, beberapa kali aku belajar caranya menjadi orang tua lewat mendengarkan mereka yang lebih dulu jadi orang tua (memiliki anak), ada juga aku menonton video parenting tentang mendidik anak, pernah juga membaca buku dari dr. Aisah Dahlan, bukunya bagus sekali, Maukah jadi Orang Tua Bahagia? Belajar Yuk.
Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya perlu kesabaran dalam kita mendidik. Bagaimana pun kita belajar, ilmu mana pun kita gunakan, tetapi jika kesabaran masih setipis tisu dalam mendidik anak, pelajaran pelajaran terkait parenting tadi serasa omong kosong dan bualan belaka. Itulah sampai sekarang perlunya melatih rasa sabar. Benar saja, sabar itu sulit sekali rasanya, tapi itu perlu dilatih dan dibiasakan.
"Ini dibaca, semoga menjadi orang tua yang lebih baik dari ibuk ya"
Aku jadi teringat, buku ini sebelumnya tidak aku beli. Aku dapat hadiah buku ini dari seseorang yang sangat special. Hari dimana aku akan menjadi seorang ayah, biasanya si bayi yang akan dapat banyak hadiah seperti baju, alat makan dan lain lain. Ibunya juga tidak kalah biasanya dapat makanan, vitamin sampai tas untuk perlengkapan bayi. Sedangkan apa yang didapat ayahnya? Alhamdulillah ada dapat buku dr Aisah Dahlan itu dari ibu Nurlaila, ibuku sendiri.
Begitulah ibuk, seorang orang tua, seorang mantan guru juga, memberikan hadiah buku ini untuk diriku yang amat kosong mungkin di matanya untuk menjadi seorang ayah. Aku masih ingat sekali pesan ibuk
"Ini dibaca, semoga menjadi orang tua yang lebih baik dari ibuk ya" pesan ibuk ketika memberikan buku
![]() |
| Dari kiri : Istriku, Ibukku & Adikku Paling ganteng : aku |
Buku ini mempunyai arti sangat dalam bagiku. Bukan hanya isi bukunya maupun penulisnya tetapi yang memberikannya kepadaku. Ibuk tahu mungkin bagaimana perasaanku saat ayah pergi meninggalkan kami, dan posisiku tidak berada disisi mereka. Ayahku sakit saat Covid dan tidak mau dirujuk ke rumah sakit, tetap bertahan di rumah dengan ibuk dan adikku saat itu. Dan aku? Aku masih di luar kota, tepatnya di Mojokerto. Saat itu masih mengajar dan menjadi wali kelas disana. Qadarullah Ayah meninggal padahal sakit sebelumnya seperti biasa saja, dan karena disaat Covid, aku baru bisa pulang ke rumah ayah di Malam ke-3.
Lewat buku ini, Ibuk sepertinya ingin membekaliku saat menjadi orang tua. Ibuk tahu dia bakal susah untuk menjawab pertanyaan terkait anak ataupun menjadi orang tua yang baik. Seolah dia menitipkan buku ini dan menjadi hadiah agar aku bisa ingat ibuk dan ayah. Aku tahu mereka sangat mencintaiku, dia juga mencintai adikku pastinya. Kami hanya berdua, saat ini adikku masih belum menjadi orang tua karena belum menikah dan fokus memperbaiki diri dengan berkarir dulu. Tidak masalah, itu bagus juga untuk bekal saat menjadi seorang ibu. Yang terpenting aku sebagai Abang mendoakan semoga adikku juga diberikan pasangan yang baik.
Masih tentang buku itu, Maukah jadi Orang Tua Bahagia? Ketika aku mengajar di SMP IT Al-Jawahir, aku pernah diberikan amanah sebagai penanggung jawab kegiatan Guru Berliterasi. Kegiatan ini mewajibkan dan membiasakan para Buya dan Umi (panggilan guru di sekolah) untuk bersikeras melalui tulisan-tulisan mereka. Umi Dilla, sebagai kepala sekolah dan sebagai rekan kerja juga yang memiliki ide tersebut waktu itu. Karena sekolah memiliki blog dan saat itu masih kosong, dia berharap melalui kegiatan ini minat membaca di sekolah meningkat, mulai dari siswa, para guru hingga wali murid. Aku sangat apresiasi terhadap ide Umi Dilla dan sangat bingung juga waktu itu, karena kegiatan ini adalah kegiatan yang baru dan tidak ada sebelumnya. Jadi, aku pun membuat jadwal penulis di setiap bulannya dan di tahun 2023 dan aku buat namaku sebagai penulis pertama di kegiatan itu, aku juga pernah menuliskan 2 tulisan yang aku juga ambil materi atau kutipannya dari buku dr. Aisah Dahlan tersebut. Pertama tentang "Teknik menegur siswa 1 menit" dan kedua tentang "Emang beda anak laki-laki dengan perempuan?"
Dan di akhir tahun 2025 ini, aku coba kunjungi blog sekolah itu, bagaimana kabar tulisannya sekarang? Dan Masya Allah... per desember 2025 kegiatan Guru Berliterasi ini masih berjalan. Umi Sakina dan Umi Ainun yang dapat kebagian penulis di akhir tahun ini. Memang dari dulu aku sangat salut dengan semangat guru guru di Al-Jawahir. Bahkan melihat berjalannya kegiatan ini, aku jadi punya ide untuk bisa dibuat di tempat kerjaku saat ini terkait literasi. Karena di BBPVP Medan adalah lembaga pelatihan vokasi dan sebagai ujung tombaknya adalah instruktur untuk menciptakan tenaga tenaga kerja profesional. Aku akan membuat kedepan kegiatan "InkStruktur". Gabungan dari Ink+Instruktur, Ink dari kata tinta dan Instruktur sebagai pengajar atau pelatih di BLK. Kegiatan Literasi bagi instruktur BBPVP Medan yang disalurkan lewat tulisan. Bisa dari materi pelatihan, pengalaman, tips dan trik dan masih banyak lagi. Pasti awalnya sulit, karena ini pertama dan belum pernah ada sebelumnya, tetapi aku akan coba dengan pengalaman di Al-Jawahir dan saat ini juga sedang mengikuti Challange dari Tautannarablog11. Mudah mudahan ide itu bisa direalisasikan di Balai nanti, syukur syukur bisa jalan seterusnya. Wah bakal gimana ya nantinya...?
Oke, sekarang Maryam juga sudah tidur, deadline pengumpulan tulisan juga semakin dekat. Karena jika lewat, langsung gugur dan dikeluarkan dari grup, padahal sayang sekali tinggal 2 hari lagi atau 2 tulisan lagi.
![]() |
| Buya Umi SMP IT Al-Jawahir Dari kiri atas : Buya Tatag, Buya Zul, Buya Donny, Buya Pras Dari kiri bawah : Umi Sakina, Umi Wike, Umi Dilla, Umi Adel, Umi Icha, Umi Nisa |
Intinya, sampai saat ini aku masih terus belajar. Belajar menjadi orang tua yang baik, menjadi suami yang baik, menjadi instruktur yang baik, menjadi guru yang baik, menjadi anak yang baik dan seperti tulisan sebelumnya di blog. Tidak penting kita menjadi yang terbaik tapi yang penting terus berbuat baik.
Sebelum penutup malam ini, izinkan untuk mengucapkan terima kasih kepada orang orang baik di bawah ini :
Ibu Nurlaila, Ibuku yang terus mendoakanku
Ibu Eka, Ibunya Maryam yang paling sabar
Umi Dilla, Umi yang mencetus Guru Berliterasi


Tidak ada komentar:
Posting Komentar