18 Desember, 2025

Menjahit Harapan di Tengah Puing Duka: Catatan dari Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Medan

Hai semua!

Bagaimana kabarnya? semoga sehat selalu ya disana. 
Sebelumnya sudah lama sekali tidak membuka blog ini. mulai hari ini aku akan sedikit menulis lagi bersama teman-teman dari @tautannarablog dalam 14 hari ke depan dengan judul yang berbeda di setiap harinya.

challange yang sangat menarik untuk diikuti karena menurutku kebiasaan membaca dan menulis sudah sangat jarang dilatih saat ini. mungkin jika sudah lama mengenalku, kalian pasti tau blog ini sudah cukup lama dan beberapa ada tulisanku yang berkesan sejak saat mahasiswa.

Aku, istriku dan Maryam

Kali ini, tentunya sudah berbeda saat terakhir menulis di blog 3-4 tahun lalu, aku lupa. Sekarang mencoba memulai menulis dengan latar belakang yang berbeda, pekerjaan yang baru, lingkungan mungkin masih sama namun tetap bertemu orang-orang baru itu membuat sadar bahwa hidup itu harus banyak bersyukurnya.

Duka bukan sekadar kehilangan nyawa, tapi kehilangan harapan dan martabat.

Sebagai ASN PPPK Kemnaker saat ini, alhamdulillah sangat bersyukur sekali dibandingkan yang sebelumnya. kita tahu semua saat ini masih banyak disana duka seorang kepala keluarga yang kehilangan pekerjaannya (PHK). Mereka menagih janji jutaan lapangan pekerjaan dari pemerintah yang masih terus dilakukan sebagai upaya menggerakkan roda ekonomi di Indonesia. Sebagai seorang ayah juga pasti merasa takut jika tidak bisa memberikan rasa keamanan kepada istri dan anak. Apalagi saat ini Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh baru saja dilanda ujian yang berat, Banjir.

Duka sangat terasa bukan saat kejadian berlangsung, tapi saat "hening"nya bantuan dan kepedulian mulai surut namun kebutuhan isi perut harus tetap diisi.

Aku sadar belum bisa banyak membantu, aku juga belum bisa mengunjungi saudaraku yang menjadi korban banjir di Aceh. bahkan aku malu rasanya saat selamat dari banjir ini, masih ada saudaraku di luar sana yang lebih peduli dan lebih banyak memberi namun tidak ingin disebut. Doaku untuk semua orang-orang baik yang menyisihkan harta dan tenaganya untuk korban banjir semoga dibalas Allah kebaikanmu dengan sebaik-baiknya balasan. Duka bukan sekedar kehilangan nyawa, tapi kehilangan harapan dan martabat. kau tau kenapa? Duka sangat terasa bukan saat kejadian berlangsung, tapi saat "hening"nya bantuan dan kepedulian mulai surut namun kebutuhan isi perut harus tetap diisi.

WFA 27 Nov 2025

WFA 28 Nov 2025

Beberapa hari lalu saat banjir terjadi dan aku tidak bisa pergi ke kantor seperti biasa karena akses jalan tidak bisa dilalui. pengumuman untuk bekerja di rumah pun sudah diterima dari kantor. Di dalam kamar ada sedikit percakapan dengan istri. dia bercerita : 

"Ayah, ibu lihat postingan, story wa saudara dan kawan kawan yang kena banjir, mereka gimana ya kondisinya? Alhamdulillah kita gak kena banjir dan selamat" ucapnya 

"Kadang ibu berpikirlah yah, kita sampai sekarang masih selamat gak kena musibah. apa memang kita ya yang harus menolong mereka?, kita yang bantu mereka? ibu tau Allah itu menguji hambanya melainkan hambanya itu mampu melalui ujian tersebut. nah kalau kita mungkin belum mampu atau tidak sekuat mereka. itulah kayaknya kita harus bantu mereka ya ayah?" ceritanya sambil menatapku

Aku hanya merenung dan sambil berfikir bagaimana jika posisi kami yang terkena musibah? mampu kah kami menghadapinya. kondisi istri juga sedang hamil besar saat ini. Maryam, anak kami juga masih 2 tahun usianya. Hasbunallah Wanikmal Wakil

Kondisi pasca banjir di Belakang Kantor BBPVP Medan

Dokumen terdampak banjir

Akhir tahun ini kegiatan pelatihan di BBPVP Medan harusnya sudah hampir selesai. namun dari minggu lalu kami lebih banyak recovery karena banyak sarana dan prasarana yang rusak berat pasca banjir. Sampai hari ini masih mengamankan dokumen dokumen penting yang basah, memindahkan, menjemur hingga mengarsipkan kembali. ya, beberapa banyak yang dibuang karena rusak atau sudah  tidak bisa digunakan, ada juga yang masih bisa diselamatkan teteap digunakan sementara untuk kegiatan kantor. 

di Kemnaker sendiri, BBPVP Medan tempat saya bekerja mendapatkan arahan langsung untuk membantu menjadi Relawan Kemnaker Peduli dan membuat Dapur Darurat untuk para korban banjir.

Saya akui memang bahwa ekspektasi publik di luarsana sangat besar terhadap bantuan pasca benacana namun pemerintah tampak tidak sigap dan terkesan lambat dalam menanganinnya. di Kemnaker sendiri, BBPVP Medan tempat saya bekerja mendapatkan arahan langsung untuk membantu menjadi Relawan Kemnaker Peduli dan membuat Dapur Darurat untuk para korban banjir. dari pusat juga sudah hadir beberapa relawan, dokter, terapi healing yang akan ditugaskan ke beberapa titik posko posko bencana. 

Ini bukan hanya masalah menunggu pusat, tapi kita harus bergerak cepat. Pemerintah bukan hanya tentang kebijakan di Jakarta, tapi tentang instruktur di Medan yang tetap mengajar meski situasi sulit. tetap berkinerja meski sarana dan prasarana banyak yang rusak. dan diantara kami ada yang ditugaskan untuk menjadi relawan juga ke beberapa titik bencana. 

Berapa lama duka ini selesai?

Kondisi jalan macet antrian BBM

Entahlah, mungkin 2026 awal masih pemulihan. sepanjang tahun prediksi ekonomi membaik mungkin butuh waktu. kita tau pasca banjir sempat berkurangnya stok BBM sehingga di area Medan sendiri harus mengantri lebih lama untuk mendapatkan BBM, itupun ada beberapa SPBU yang pembeliannya dibatasi. ada juga yang sudah lama mengantri, ketika gilirannya ternyata BBM tersebut sudah habis. La Haula Wala Quwwata Illa Billah

Belum lagi kebutuhan pokok yang terus naik, semua harga ikut melonjak. faktanya ini memang kurasakan saat belanja di pasar untuk kebutuhan rumah atas permintaan istri. padahal belum 2026, tapi harga harga sudah naik. ke depan, semoga semua ini lekas membaik, setidaknya para korban bisa terpenuhi kebutuhan mereka. kita tidak bisa menghentikan badai, tapi kita bisa melatih orang untuk membangun kapal yang lebih kuat. 

Bagaimana Mengobati Duka Ini?

belajar keahlian baru adalah obat mujarab untuk rasa tidak berdaya. Kompetensi adalah harga diri dan kemampuan yang belum dimiliki itu bisa dilatih.

Mau tidak mau belajar keahlian baru adalah obat mujarab untuk rasa tidak berdaya. Kompetensi adalah harga diri dan kemampuan yang belum dimiliki itu bisa dilatih. hadirnya BBPVP Medan bisa menjadi salah satu jawaban tersebut. diharapkan memiliki kompetensi dan keahlian baru setelah pelatihan menjadi bekal dan pengalaman memasuki dunia kerja untuk menghidupkan kembali duka ini. 


ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ۝٤١

dhaharal-fasâdu fil-barri wal-baḫri bimâ kasabat aidin-nâsi liyudzîqahum ba‘dlalladzî ‘amilû la‘allahum yarji‘ûn

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

BBPVP Medan terdampak banjir

Sebelum berakhir, aku pun menyadari kita harus bijak untuk mengambil hikmah dan makna yang terjadi atas ujian ini. bukan saatnya kita saling menyalahkan namun kita harus saling membantu dan menolong. tagline warga bantu warga hingga berubah menjadi korban bantu korban itu adalah bukti bahwa kita "yang masih selamat ini" harus lebih peduli dan berbagi lebih banyak lagi. memang pemerintah harus koreksi dan berbenah. sebagai salah satu bagian dari mereka, aku juga tidak bisa berbuat banyak. namun jika ada yang ingin disampaikan dan dituliskan terkait program pelatihan apa yang bisa kita buat ke depan khususnya untuk para korban, jika ada saran dan masukan, maupun kritikan juga boleh. silahkan tuliskan di komentar

"Hari ini, di depan layar ini, saya memilih untuk tidak hanya menjadi saksi duka, tapi menjadi bagian dari pemulihan. Lewat tulisan, lewat pengajaran di kelas vokasi, dan lewat doa seorang ayah."
Demikian, tautannarablog11 yang pertama hari ini. Semoga bermanfaat!
Gedung Spa, BBPVP Medan 18 Desember 2025



Tidak ada komentar:

Baca artikel populer lainnya